Yang Bukan Ciri Khas Dari Historiografi Tradisional Adalah

Yang Bukan Ciri Khas Dari Historiografi Tradisional Adalah

Berikut ini yang bukan merupakan ciri dari historiografi tradisional adalah?

  1. bersifat istana sentris
  2. penulisannya bertujuan memberikan legitimasi yang kuat terhadap penguasa
  3. merupakan ekspresi budaya
  4. menggunakan metode sejarah
  5. terdapat unsur-unsur sastra, karya imajinati, dan mitologi

Berdasarkan pilihan diatas, jawaban yang paling benar adalah:
D. menggunakan metode sejarah.

Dari hasil voting 987 orang setuju jawaban D benar, dan 0 orang setuju jawaban D salah.

Berikut ini yang bukan merupakan ciri dari historiografi tradisional adalah menggunakan metode sejarah.

Pembahasan dan Penjelasan

Jawaban
A. bersifat istana sentris
menurut saya kurang tepat, karena kalau dibaca dari pertanyaanya jawaban ini tidak nyambung sama sekali.

Jawaban
B. penulisannya bertujuan memberikan legitimasi yang kuat terhadap penguasa
menurut saya ini 100% salah, karena sudah melenceng jauh dari apa yang ditanyakan.

Jawaban
C. merupakan ekspresi budaya
menurut saya ini juga salah, karena dari buku yang saya baca ini tidak masuk dalam pembahasan.

Jawaban
D. menggunakan metode sejarah
menurut saya ini yang paling benar, karena kalau dibandingkan dengan pilihan yang lain, ini jawaban yang paling pas tepat, dan akurat.

Jawaban
E. terdapat unsur-unsur sastra, karya imajinati, dan mitologi
menurut saya ini salah, karena setelah saya cari di google, jawaban tersebut lebih tepat digunkan untuk pertanyaan lain.

Kesimpulan

Dari penjelasan dan pembahasan diatas, bisa disimpulkan pilihan jawaban yang benar adalah D. menggunakan metode sejarah

Jika masih punya pertanyaan lain, kalian bisa menanyakan melalui kolom komentar dibawah, terimakasih.

tirto.id – Historiografi berasal dari kata history yang berarti sejarah dan grafi yang berarti deskripsi/penulisan jadi historiografi berarti penulisan sejarah.

Menururt Kuntowijoyo dalam buku Modul Pembelajaran SMA Sejarah Kelas Ten historiografi merupakan tahap menceritakan kembali suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah bentuk catatan sejarah.

Baca Juga :   Pada Proses Pembuatan Tempe Digunakan Rhizopus Oryzae Yang Berperan Untuk

Soedjatmiko
dalam buku Manusia dan Ruang Lingkup Ilmu Sejarah menyatakan bahwa historiografi tradisional Nusantara ditulis dalam bentuk pros maupun puisi (syair), seperti babad, serat, kanda, sajarah, carita, hikayat, sejarah, tutur, salsilah, dan cerita-cerita manurung.

Historiografi di Indonesia terbagi atas tradisional, kolonial, dan modern. Penulisan historiografi di Republic of indonesia sudah dimulai pada zaman kerajaan Hindu-Budha sampai berkembangnya Islam.

Di Republic of indonesia historiografi diawali dari masa aksara atau tulisan dengan karya pertama berupa prasasti oleh Mpu Prapanca yang menulis kitab Negarakertagama.

Pada masa tradisional buku dengan judul Cristische Beschouwing Van Sadjarah Van Banten atau buku tentang sejarah Banten pada 1962 – 1963 dianggap sebagai titik balik berakhirnya historiografi tradisional di Indonesia.

Historiografi Tradisional Masa Hindu-Budha

Pada masa Kerajaan Hindu-Budha, historiografi berkembang pesat yang dibuktikan dengan terciptanya 1.000 buah naskah di seluruh Nusantara dengan beberapa di antaranya berupa penulisan kitab.
Contoh
karya tulisan pada masa tradisional dari kerajaan Hindu-Budha berupa:

1. Babad Tanah Pasundan

ii. Babad Parahiangan

3. Babad Tanah Jawa

4. Pararaton

5. Nagarakertagama

half dozen. Babad Galuh

7. Babad Sriwijaya dll

Historiografi Tradisional Masa Islam

Cerita sejarah yang dibuat sebagian merupakan penyesuaian kebudayaan Islam. Contoh karya yang ditulis oleh pujangga pada saat kerajaan Islam di Nusantara meliputi:

one. Kerajaan Islam Cirebon

ii. Babad Banten dari Kerajaan Islam Banten

3. Babad Diponegoro yang menceritakan mengenai kehidupan Pangeran Diponegoro

4. Babad Demak yang mengisahkan tentang Kerajaan Islam Demak

v. Babad Aceh dll

Ciri-ciri Historiografi Tradisional

Menurut
Hasnawati
dalam buku Modul Pembelajaran SMA Sejarah Kelas X menyatakan bahwa terdapat 6 (enam) ciri-ciri historiografi tradisional, yaitu,

1. Istana sentris, yaitu karya hanya difokuskan pada kehidupan raja atau keluarga istana jadi tidak ada cerita mengenai kehidupan masyarakat umum

Baca Juga :   Aksara Jawa Lemu

2. Religius magis, yaitu sejarah yang berhubungan dengan kepercayaan dan hal-hal gaib. Hal ini bertujuan agar rakyat patuh kepada raja karena seorang raja dianggap sebagai penjelmaan Tuhan atau Dewa.

three. Bersifat feodalistis-aristokratis, yaitu cerita sejarah yang menceritakan tentang bangsawan feodal, sama seperti istana sentris, cerita yang dikisahkan hanya terpusat pada kaum bangsawan dan tidak ada sangkut paut mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat umum

four. Tidak ada perbedaan peristiwa nyata dan khayal karena semua dianggap sama

5. Bersifat regio-sentris atau enocentrisme (kedaerahan), yaitu cerita sejarah yang menekankan pada budaya dan suku bangsa di kerajaan tersebut

vi. Terdapat kesalahan-kesalahan dalam penguraiannya. Cerita yang ditulis tidak seluruhnya berdasarkan fakta yang terjadi, melainkan dalam menulis nama, fakta sejarah, penggunaan kosa kata, dan penulisan waktu pada cerita berbeda.

Baca juga:

  • Pengertian Cara Berpikir Kausalitas dalam Sejarah dan Jenisnya
  • Apa Sejarah, Asas dan Tujuan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)?

Baca juga artikel terkait HISTORIOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Wulandari

(tirto.id – wnd/wta)


Penulis: Wulandari
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
Kontributor: Wulandari

Subscribe for updates Unsubscribe from updates

Yang bukan ciri khas historiografi tradisional adalah

Yang bukan ciri khas historiografi tradisional adalah

Lihat Foto

Prasasti Mantyasih di Meteseh, Kota Magelang.

KOMPAS.com
– Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang eksis pada zaman kerajaan Hindu-Buddha hingga kerajaan Islam di Nusantara.

Umumnya historiografi tradisional diciptakan oleh pujangga-pujangga di kalangan kerajaan sebagai legitimasi dari raja atau penguasa yang sedah bertahta.

Media yang digunakan dalam historiografi tradisional berupa media tulis natural seperti batu prasasti, lontar, kulit binatang, kertas dsb.

Ciri-ciri historiografi tradisional

Dalam buku Historiografi di Republic of indonesia : Dari Magis Religius hingga Strukturis (2009) karya Agus Mulyana dan Darmiati, ciri-ciri historiografi tradisional adalah:

  • Religio-magis, artinya unsur magis atau supranatural sangat kental dalam narasi historiografi tradisional.
  • Istana-sentris, artinya subyek, obyek, dan ruang lingkup historiografi tradisional hanya seputar kehidupan istana kerajaan.
  • Historiografi tradisional digunakan sebagai alat legitimasi (pengesahan) kekuasaan raja.
  • Bersifat feodalistik-aristokratis, artinya historiografi tradisional hanya membahas tentang sejarah dari kaum bangsawan dan keturunan raja.
  • Region-sentris atau kedaerahan, artinya historiografi tradisional banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat di daerah setempat.
Baca Juga :   Penerapan Prinsip Bioteknologi Konvensional Dapat Dilakukan Pada Proses

Baca juga: Prasasti Peninggalan Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Kelemahan historiografi tradisional

Dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah (2005) karya Kuntowijoyo, historiografi tradisional memiliki kelemahan sebagai berikut:

  • Memiliki subyektifitas yang tinggi, sehingga cenderung dibuat berdasarkan kepentingan dari sang penulis atau penguasa. Hal tersebut menjadikan beberapa peristiwa sejarah dalam historiografi tradisional diragukan obyektifitas dan netralitasnya.
  • Tidak menggunakan metodologi yang jelas
  • Hanya mengungkapkan peristiwa sejarah dalam aspek kehidupan yang terbatas.
  • Tidak memiliki sumber sejarah yang jelas
  • Menggabungkan unsur supranatural dan realitas, sehingga mempersulit pembaca untuk mencari kebenaran sejarah.

Kelebihan Historiografi Tradisional

Historiografi tradisional juga memiliki kelebihan, seperti:

  • Menggunakan romantisme klasik dalam penulisan sejarah sehingga menarik untuk dibaca.
  • Mampu menunjukan legitimasi raja dan keadaan politik kerajaan.
  • Historiografi tradisional menggunakan konsep genealogi (silsilah) secara runtut dan kronologis.

Baca juga: Zaman Praaksara di Republic of indonesia

Contoh Historiografi Tradisional

Berikut merupakan contoh-contoh karya historiografi tradisional :

  • Kitab Pararaton
  • Kitab Negarakertagama
  • Babad Tanah Jawi
  • Babad Tanah Pasundan
  • Hikayat Raja-Raja Pasai

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berikutnya

Yang Bukan Ciri Khas Dari Historiografi Tradisional Adalah

Source: https://toptenid.com/yang-bukan-ciri-khas-historiografi-tradisional-adalah