Sebutkan 2 Tujuan Operasi Terpadu Pagar Betis

Sebutkan 2 Tujuan Operasi Terpadu Pagar Betis

KOMARUDIN pelaku Sejarah Operasi Pagar Betis tahun 1962.


INISUMEDANG.COM

– Operasi
Pagar Betis

merupakan operasi militer untuk mengakhiri
pemberontakan DI/TII
di Jawa Barat pimpinan Kartosuwiryo. Dengan pengepung markasnya di Gunung Geber perbatasan Kamojang Kabupaten Garut dan Majalaya Kabupaten Bandung.

Tujuan operasi Pagar Betis untuk mempersempit ruang gerak
DII/TII
dengan mendirikan pos-pos penjagaan. Sehingga tidak ada celah gerombolan itu bisa keluar dari Gunung Geber sekitar tahun 1962-an.

Mungkin akibat kelaparan hampir sebulan tak dapat makam. Satu persatu anggota gerombolan DII/TII turun gunung menyerah karena tergoda mencium harum scent bakar
ikan asin
dan nasi liweut di pos penjagaan.

Operasi ini dikisahkan Komarudin (70) warga Cikubang Sukahayu
Rancakalong
Sumedang
Jawa Barat. Dia salah seorang pelaku sejarah dalam operasi Pagar Betis di Gunung Geber tahun 1962.

Waktu itu, kata dia, ada perintah dari Kabupaten Sumedang bahwa warga yang sudah menginjak dewasa harus ikut operasi Pagar Betis menumpasan DII/TII. Mungkin sekarang disebut tim relawan.

Perintah itu termasuk kepada bapaknya (Pak Aan). Namun karena bapaknya sudah lanjut usia, maka anaknya (Komarudin) yang baru menginjak dewasa sekitar 16 tahun berangkat mewakili bapaknya ikut dalam operasi Pagar Betis.

“Mengikuti operasi pagar betis itu karena harus mengganti (aplus) orang yang lebih dulu ikuti operasi Pagar Betis. Mereka (petugas jaga) belum turun jika belum ada pergantian atau aplus vii orang isi pos penjagaan,” kata dia di rumahnya, Kamis (17/3/2022).

Tergoda Aroma Harum Bakar Ikan Asin

Komarudin yang diakrab dipanggil Uwa Komar ini menuturkan, di pos penjagaan tidak menyediakan beras apalagi lauk pauk. Perbekalan bawa dari rumah masing-masing, termasuk Komarudin. Selain bawa beras, lauknya juga memilih bawa ikan asin karena bisa bertahan lama jika disimpan sebulan.

Baca Juga :   Jelaskan Sejarah Penamaan Daerah Kebon Sirih

“Mungkin saya dianggap masih kecil, tugas sehari-hari di pos jaga hanya tukang ngaliweut (masak nasi) dan lauk pauknya beuleum asin Peda (bakar ikan asin jenis Peda) untuk makam bersama ke-seven orang anggota di pos penjagaan,” tuturnya.

Di suatu hari, tiba-tiba beberapa orang jaga pos dan tentara menangkap dua orang anggota gerombolan DII/TII. Katanya menyerah tidak kuat menahan lapar minta makan nasi liweut dan bakar ikan asin.

Luar biasa, asap dari bakar ikan asin beraroma semerbak hingga sampai kepuncak gunung, menggoda dan menarik gerombolan DII/TII yang sedang kelaparan hingga keluar dari tempat persembunyiannya.

“Karena bakar ikan asin ini, anggota gerombolan DI/TII menyerah tanpa kontak senjata,” ujarnya.

Kartosuwiryo Ditangkap

Dilansir tulisan terdahulu, mayoritas masyarakat Jawa Barat tidak mendukung gerakan DII/TII, malah justru membantu TNI dalam penumpasan DII/TII. Yaitu gerakan operasi militer Barata Yuda yang dikenal dengan operasi Pagar Betis.

Pada 6 Juli 1962, Kompi C Batalion 328 Kujang two Siliwangi dibawah pimpinan Letda Suhanda. Bergerak mengikuti jejak ke arah Kawah Kambojang Garut yang diyakini sebagai jejak gerombolan DII/TII bersembunyi.

Diatas ketinggian yang gelap penuh pepohonan di gunung Geber masuk wilayah Majalaya Kabupaten Bandung, Sersan Ara Suhara terus bergerak mendekati sebuah gubuk yang ternyata didalamnya Kartosuwirjo.

Dalam keadaan badan kurus kering dan lemas kelaparan, Kartosuwirjo ditangkap hidup-hidup. Selanjutnya dibawa dan diadili hingga dijatuhi hukuman mati pada 5 September 1962.

Sebutkan 2 Tujuan Operasi Terpadu Pagar Betis

Source: https://inisumedang.com/kisah-operasi-pagar-betis-di-tii-menyerah-karena-mencium-aroma-ikan-asin-bakar/