Kalimat Esai Novel Laskar Pelangi

Kalimat Esai Novel Laskar Pelangi








PENULISAN ESAI-KRITIK


KAJIAN PUISI


Program Studi Magister Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia


FKIP Universitas Lampung


Disusun oleh:


Kelompok 4



1.





Heriza Nevisi Yanda Putri
1523041013



2.





Yunita Handiawati
1523041019




3.





K. Iman Jauhari
1523041010



iv.





Supu Hernawiah

1523041012



5.





Rudi Hermawan
1523041004












Plan PASCASARJANA FKIP


UNIVERSITAS LAMPUNG


BANDAR LAMPUNG


2015/2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta usaha yang penulis lakukan sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Pada makalah ini penulis membahas mengenai “Penulisan Esai-Kritik”
.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan yang sangat berharga dari berbagai pihak. Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu hingga diselesaikanya makalah ini. Semoga bantuan dan amal baik yang mereka berikan kepada penulis akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kritik yang membangun selalu penulis harapkan guna kesempurnaan makalah ini.

Bandar Lampung,
September
2015

Penulis


DAFTRA ISI

HALAMAN
DEPAN …………………………………………………………………


i

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………
ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………..
3


BAB I PENDHULUAN


1.1



Latar Belakang…………………………………………………………………………
i


1.2



Rumusan Masalah…………………………………………………………………….
2


i.3



Tujuan Penulisan ……………………………………………………………………..


2


BAB Ii PEMBAHASAN


two.one



Esai ………………………………………………………………………………………..
three


2.1.1



Jenis-Jenis Esai ………………………………………………………………


vi


2.one.ii



Ciri-ciri Esai …………………………………………………………………..


vii


2.1.3



Langkah-langkah Membuat Esai ………………………………………


viii


2.ane.iv



Contoh Esai ……………………………………………………………………


12


2.2



Kritik ………………………………………………………………………………………


eighteen


ii.2.ane



Jenis- jenis Kritik………………………………………………………………
twenty


ii.2.ii



Fungsi Kritik ……………………………………………………………………
22


2.2.3



Ciri-ciri kritik…………………………………………………………………….


25


2.2.4



Langkah Penulisan Kritik …………………………………………………..
25


2.2.5



Contoh Kritik ……………………………………………………………………


26


BAB III PENUTUP


three.one



Simpulan…………………………………………………………………………………
31


3.2



Saran-Saran …………………………………………………………………………….
32

DAFTAR PUSTAKA


BAB I


PENDAHULUAN



1.one





Latar Belakang

Sebagai salah satu bagian dari kesusastraan, kajian yang merupakan sebuah apresiasi dari sebuah sastra sangat penting dimiliki oleh tiap-tiap karya sastra. Oleh karena itu, menyajikan sebuah kajian terhadap suatu karya sastra, baik itu puisi, prosa maupun drama dapat melengkapi maupun menyempurnakan karya tersebut. Dengan demikian, keberadaan kajian sastra berupa esai dan kritik terhadap sebuah karya sastra, diharapkan dapat menggali sisi unggul dan lemahnya, kebenaran juga kesalahan suatu karya sastra.

Sehingga, sebuah karya sastra yang banyak mendapat kajian atau apresiasi berupa esai dan kritik dari para penikmat sastra, dapat dipastikan bahwa topik yang dikemukakan oleh seorang sastrawan dianggap menarik dan bermutu. Sekiranya karya-karya sang sastrawan bisa menjadi lebih baik, sempurna serta mencapai penciptaan karya sastra tertinggi dengan banyaknya apresiasi yang diterima.

Kajian (Kritik maupun esai)
sastra memiliki tujuan yang sama, yakni mengekspresikan opini. Kritik dan esai sastra merupakan cabang dari ilmu sastra dalam pengadaan analisis, penafsiran, serta penilaian sebuah karya sastra. Orang yang melakukannya disebut kritikus sastra. Dia diharapkan memahami terlebih dahulu tentang ilmu sastra sebelum membuat sebuah kritik sastra.
HB. Jassin
pernah berpendapat bahwa kritik sastra adalah pertimbangan baik atau buruk suatu hasil karya sastra. Oleh karena itu, seorang kritikus sastra akan dianggap sebagai juru obat. Jika karya sastra telah diresensi oleh seorang kritikus terkenal, maka karyanya dianggap bermutu dan bernilai sastra tinggi.

Menikmati karya sastra merupakan suatu kegiatan memberikan apresiasi terhadap karya tulis. Kebiasaan menikmati karya sastra memberikan nilai lebih dalam berbagai wacana, misalnya sosial, religi, kamanusiaan, heroisme, moral, filosofis. Sikap apresiasi biasanya berkembang menjadi lebih baik manakala dibarengi dengan semakin bertambahnya referensi sastra seseorang
.

Melalui karya sastra, seorang pengarang menyampaikan pandangannya tentang kehidupan yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu mengapresiasi karya sastra artinya berusaha menemukakan nilai-nilai kehidupan yang tercermin dalam karya sastra. Banyak nilai-nilai

kehidupan yang bisa ditemukan dalam karya sastra tersebut. Sastra berisi produk budaya

manusia berisi nilai-nilai yang hidup dan berlaku dalam masyarakat. “Sastra sebagai hasil pengolahan jiwa pengarangnya, dihasilkan melalui suatu proses perenungan yang panjang mengenai hakikat hidup dan kehidupan. Sastra ditulis dengan penuh penghayatan
dan sentuhan jiwa yang dikemas dalam imajinasi yang dalam tentang kehidupan.”
(Rokhmansyah, 2013:2)



1.2





Rumusan Masalah

Dalam makalah ini yang menjadi pokok pembahasan yaitu:

Apakah yang dimaksud dengan kajian (esai dan kritik) terhadap suatu karya sastra, serta bagaimanakah penulisannya?



1.3





Tujuan Penulisan

Tujuan dalam penulisan makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu:


1.



Memahami tujuan dari pengkajian sebuah karya sastra,


2.



Menjelaskan tentang pengkajian (esai dan kritik) suatu karya sastra,


iii.



Menjelaskan mengenai kiat dan tahapan dalam penulisan kajian (esai dan kritik) suatu karya sastra, dan


4.



Melengkapi salah satu syarat kelulusan Mata Kuliah Kajian Puisi,


5.



Menjelaskan mengenai kiat dan tahapan dalam penulisan esai dan kritik


BAB Ii


PEMBAHASAN



2.i





Esai

Sebuah esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.

Apa yang membedakan esai dan bukan esai? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan dengan merujuk pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada, tetapi pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering kali masih tidak lengkap dan kadang bertolak belakang sehingga masih mengandung kekurangan juga. Misal mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang, dan dapat dibaca sekali duduk; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian (sastra, budaya, filsafat, ilmu); dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur.

Penjelasan mengenai esai dapat lebih “aman dan mudah dimengerti” jika ditempuh dengan cara meminjam pembagian model penalaran ala Edward de Bono. Menurut De Bono, penalaran dapat dibagi menjadi dua model. Pertama, model penalaran vertikal (memusatkan perhatian dan mengesampingkan sesuatu yang tidak relevan) dan kedua model penalaran lateral (membukakan perhatian dan menerima semua kemungkinan dan pengaruh).

Dari pembagian model penalaran ini, esai cenderung lebih mengamalkan penalaran lateral karena esai cenderung tidak analitis dan acak, melainkan dapat melompat-lompat dan provokatif. Sebab, esai menurut makna asal katanya adalah sebuah upaya atau percobaan yang tidak harus menjawab suatu persoalan secara terminal, tetapi lebih ingin merangsang. Menurut Francis Bacon, esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.

Esai mulai dikenal pada tahun 1500-an dimana seorang filsuf Perancis, Montaigne, menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot dan observasinya. Buku pertamanya ini diterbitkan pada tahun 1580 yang berjudul Essais yang berarti attempts atau usaha. Montaigne menulis beberapa cerita dalam buku ini dan menyatakan bahwa bukunya diterbitkan berdasarkan pendapat pribadinya. Esai ini, berdasarkan pengakuan Montaigne, bertujuan mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan.

Lalu bagaimana pengertian esai menurut Montaigne? Montaigne menuliskan sikap dan pandangannya mengenai esai melalui deskripsi-deskripsinya yang tersirat, sahaja, rendah hati tetapi jernih dalam sebuah kata pengantar bukunya: “Pembaca, ini sebuah buku yang jujur. Anda diperingatkan semenjak awal bahwa dalam buku ini telah saya tetapkan suatu tujuan yang bersifat kekeluargaan dan pribadi. Tidak terpikir oleh saya bahwa buku ini harus bermanfaat untuk anda atau harus memuliakan diri saya. Maksud itu berada di luar kemampuan saya. Buku ini saya persembahkan kepada para kerabat dan handai taulan agar dapat mereka manfaatkan secara pribadi sehingga ketika saya tidak lagi berada di tengah-tengah mereka (suatu hal yang pasti segera mereka alami), dapatlah mereka temukan di dalamnya beberapa sifat dari kebiasaan dan rasa humour saya, dan mudah-mudahan, dengan cara itu, pengetahuan yang telah mereka peroleh tentang diri saya tetap awet dan selalu hidup” (dari “To The Reader”).

Kemudian, pada tahun 1600-an, Sir Francis Bacon menjadi Esais Inggris pertama. Bukunya berjudul Essay. Bentuk, panjang, kejelasan, dan ritme kalimat dari esai ini menjadi standar bagi esais-esais sesudahnya. Ada beberapa esai yang formal, dan ada beberapa esai lain yang bersifat informal. Bentuk esai informal lebih mudah ditulis karena lebih bersifat personal, jenaka, dengan bentuk yang bergaya, struktur yang tidak terlalu formal, dan bertutur. Bentuk esai formal lebih sering dipergunakan oleh para pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Formal esai dibedakan dari tujuannya yang lebih serius, berbobot, logis dan lebih panjang.

Di Indonesia bentuk esai dipopulerkan oleh HB Jassin melalui tinjauan-tinjauannya mengenai karya-karya sastra Republic of indonesia yang kemudian dibukukan (sebanyak empat jilid) dengan judul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1985), tapi Jassin tidak bisa menjelaskan rumusan esai

Beberapa definisi berikut dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengn esai itu sendiri. Esai diartikan sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas melalui sudut pandang pribadi penulisnya (KBBI, 2005:308). Menurut H.B. Jassin, esai adalah uraian yang membicarakan bermacam ragam, tidak tersusun secara teratur tetapi seperti dipetik dari bermacam jalan pikiran. Dalam esai terlihat keinginan, sikap terhadap soal yang dibicarakan, kadang-kadang terhadap kehidupan seluruhnya.

Sementara itu, pendapat dari Soetomo menyebut bahwa esai adalah sebagai karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengemukakan pendiriannya, pikirannya, cita-citanya, atau sikapnya terhadap suatu persoalan yang disajikan.

Esai adalah bentuk karangan prosa menggunakan bahasa yang memikat perhatian. Pikatan itu terutama karena penggunaaan beberpa perangkat bahasa yang indah menyimpan gagasan-gagasan berkualitas dan ide-ide jenial. Dalam bahasa Inggris esai disebut
essay
dan dalam bahsa Perancis disebut
essai.
Dalam perkembangan kepenulisan esai dikenal esai formal dan esai nonformal (Rampan, 2010:168).

Menurut
Ekseklopedia Sastra Indonesia,
esai formal dalam bahasa Inggris disebut
formal essay
merupakan suatun karangan yang membahas suaatu topik secara panjang lebar dan mendalam dengan sudut pandang yang objektif. Dengan penulisan seperti itu, esai banyak digemari oleh pembaca dibandingkan dengan kritik sastra formal yang cenderung teoritik. Itu sebabnya banyak kritik sastra menggunakan bentuk esai. Sementara itu esai nonformal dalam bahsa Inggris disebut
nonformal Essai,
yaitu esai yang membahas karangan orang lain sepintas lalu, sehingga tidak mendalam, dan lebih bersifat subjektif.

Semi (1990:15) mengatakan bahwa esai sastra adalah suatu tulisan yang merupakan laporan hasil eksplorasi penulis tentang karya atau beberapa karya
sastra yang sifatnya lebih banyak menekankan
aspek sensasi dan kekaguman penelaah tentang hasil bacaannya atau hasil penjelajahannya. Esai seringkali di jumpai tidak saja dalam bidang sastra tetapi juga dalam bidang lain, sehingga kita jumpai ada esei ekonomi, esei politik, esei politik, esei budaya dan lain lain. Esei sastra tentulah menyangkut bahasan tentang sastra yang pada umumnya berbentuk artikel atau makalah.

Esai sering juga disebut artikel, tulisan, atau komposisi. Dalam arti yang lebih luas, esai juga dipahami sebagai sebuah karangan. Secara umum, esai didefinisikan sebagai sebuah karangan singkat yang berisi pendapat atau argumen penulis tentang suatu topik. Biasanya, seseorang menulis esai karena ia ingin memberikan pendapat terhadap suatu persoalan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Penulis esai, atau sering disebut esais, dapat juga mengupas suatu topik atau persoalan dan memberikan tanggapan dan pendapatnya atas topiik atau persoalan yang dibahasnya.



2.1.1





Jenis-Jenis Esai

Secara umum esai dibagi menjadi enam

jenis, yaitu:

one.


Esai deskriptif. Esai jenis ini dapat meluliskan subjek atau objek apa saja yang dapat menarik perhatian pengarang. Ia bisa mendeskripsikan sebuah rumah, sepatu, tempat rekreasi dan sebagainya.

2.


Esai tajuk. Esai jenis ini dapat dilihat dalam surat kabar dan majalah. Esai ini mempunyai satu fungsi khusus, yaitu menggambarkan pandangan dan sikap surat kabar/majalah tersebut terhadap satu topik dan isyu dalam masyarakat. Dengan Esai tajuk, surat kabar tersebut membentuk opini pembaca. Tajuk surat kabar tidak perlu disertai dengan nama penulis.

3.


Esai cukilan watak. Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. Lewat cukilan watak itu pembaca dapat mengetahui sikap penulis terhadap tipe pribadi yang dibeberkan. Disini penulis tidak menuliskan biografi. Ia hanya memilih bagian-bagian yang utama dari kehidupan dan watak pribadi tersebut.

4.


Esai pribadi, hampir sama dengan esai cukilan watak. Akan tetapi esai pribadi ditulis sendiri oleh pribadi tersebut tentang dirinya sendiri. Penulis akan menyatakan “Saya adalah saya. Saya akan menceritakan kepada saudara hidup saya dan pandangan saya tentang hidup”. Ia membuka tabir tentang dirinya sendiri.

five.


Esai reflektif. Esai reflektif ditulis secara formal dengan cypher serius. Penulis mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati beberapa topik yang penting berhubungan dengan hidup, misalnya kematian, politik, pendidikan, dan hakikat manusiawi. Esai ini ditujukan kepada para cendekiawan.

six.


Esai kritik. Dalam esai kritik penulis memusatkan diri pada uraian tentang seni, misalnya, lukisan, tarian, pahat, patung, teater, kesusasteraan. Esai kritik bisa ditulis tentang seni tradisional, pekerjaan seorang seniman pada masa lampau, tentang seni kontemporer. Esai ini membangkitkan kesadaran pembaca tentang pikiran dan perasaan penulis tentang karya seni. Kritik yang menyangkut karya sastra disebut kritik sastra.



2.1.2





Ciri-ciri Esai

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri esai, yaitu :

one.


Berbentuk prosa, artinya dalam bentuk komunikasi biasa, menghindarkan penggunaan bahasa dan ungkapan figuratif.

two.


Singkat, maksudnya dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua ja


m.

3.


Memiliki gaya pembeda. Seorang penulis esai yang baik akan membawa ciri dan gaya yang khas, yang membedakan tulisannya dengan gaya penulis lain.

iv.


Selalu tidak utuh, artinya penulis memilih segi-segi yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak ditulis. Penulis memilih aspek tertentu saja untuk disampaikan kepada para pembaca.

5.


Memenuhi keutuhan penulisan. Walaupun esai adalah tulisan yang tidak utuh, namun harus memiliki kesatuan, dan memenuhi syarat-syarat penulisan, mulai dari pendahuluan, pengembangan sampai ke pengakhiran. Di dalamnya terdapat koherensi dan kesimpulan yang logis. Penulis harus mengemukakan argumennya dan tidak membiarkan pembaca tergantung di awang-awang.

6.


Mempunyai nada pribadi atau bersifat personal, yang membedakan esai dengan jenis karya sastra yang lain adalah ciri personal. Ciri personal dalam penulisan esai adalah pengungkapan penulis sendiri tentang kediriannya, pandangannya, sikapnya, pikirannya, dan dugaannya kepada pembaca.

Baca Juga :   Sebutkan Macam Macam Miqat Dan Pengertiannya



ii.1.three





Langkah-langkah Membuat Esai

Untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai.


Struktur Sebuah Esai. Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:


ane.



Paragraf Pertama. Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut esainya. Esai ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan esai tersebut dalam beberapa sub topik.


ii.



Paragraf Kedua sampai k
eempat
.


Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung esai dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.



3.



Paragraf Kelima (terakhir). Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali esai dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sinesai untuk meyakinkan pembaca


Jika dipetakan mengenai langkah-langkah membuat esai, bisa dirunut sebagai berikut:


1.



Menentukan tema atau topik

Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun
demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya. Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai contoh, bilatopik tentang “Republic of indonesia” adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview), maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi Politik di Indonesia”. Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.

Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan
berkarakter.


a.



Tentukan Tujuan. Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk
meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.


b.



Tuliskan Minat Anda. Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang
menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.


c.



Evaluasi Potensial Topik . Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang
dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan.
Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.


d.



Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.


two.



Membuatoutline atau garis besar ide-ide yang akan kita bahas

Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-
ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.


a.



Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas.


b.



Tuliskan angka romawi I, 2, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya.


c.



Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud: Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik. Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca. Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut.


d.



Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sisi kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama


3.



Menuliskan pendapat kita sebagai penulisnya dengan kalimat yang singkat dan jelas.

Suatu pernyataan esai mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan esai anda terdiri dari dua bagian:







Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia






Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.


iv.



Menulis tubuh esai memulai dengan memilah poin penting yang akan dibahas, kemudian buatlah beberapa subtema pembahasan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari gagasan kita sebagai penulisnya, selanjutnya kita harus mengembangkan subtema yang telah kita buat sebelumnya.

Mulailah dengan poin-poin penting kemudian buatlah beberapa sub topik dan kembangkan sub topik yang telah anda buat. Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh esai anda. Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:


a.



Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama”.


b.



Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai
lima baris.


c.



Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi.


d.



Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf. Setelah menuliskan tubuh esai, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf: pendahuluan dan kesimpulan.


5.



Membuat paragraf pertama yang sifatnya sebagai pendahuluan. Itu sebabnya, yang akan kita tulis itu harus merupakan alasan atau latar belakang alasan kita menulis esai tersebut.


a.



Mulailah dengan menarik perhatian pembaca. Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat. Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda
maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati. Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.


b.



Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa pembaca pada pernyataan esai anda.


c.



Tutup paragraf anda dengan pernyataan esai anda.


6.



Menuliskan kesimpulan. Ini penting karena untuk membentuk opini pembaca kita harus memberikan kesimpulan pendapat dari gagasan kita sebagai penulisnya. Karena memang tugas penulis esai adalah seperti itu. Berbeda dengan penulis berita di media massa yang seharusnya (memang) bersikap netral.


7.



Jangan lupa untuk memberikan sentuhan akhir pada tulisan kita agar pembaca merasa bisa mengambil manfaat dari apa yang kita tulis tersebut dengan mudah dan sistematis sehingga membentuk kerangka berpikir mereka secara utuh.


a.




Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada urutan pertama, dan
paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus masuk akal. Jika naskah anda
menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.


b.



Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya.


c.



Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.


d.



Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?


east.



Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya.


f.



Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda.



2.1.4





Contoh Esai

Berikut contoh esai;


Maraknya Kecelakaan Angkutan Umum (i)

Beberapa minggu terakhir ini kita “dibiasakan” dengan berita kecelakaan angkutan umum. Mengapa saya katakan “dibiasakan”? Karena memang dalam beberapa pekan terakhir ini di media cetak maupun elektronik sering sekali kita jumpai berita tentang kecelakaan angkutan umum yang celakanya kecelakaan tersebut hampir selalu memakan korban jiwa. Sangat ironis memang, angkutan umum yang seharusnya menjanjikan pelayanan jasa transportasi yang nyaman dan lebih aman malah belakangan menjadi penyumbang terbesar dalam kasus kecelakaan.(2)

Sebuah akibat tentu saja ada sebabnya. Jika kita amati sedikit saja bagaimana dunia pertransportasian kita, terkhusus transportasi umum darat, tentu kita dapat melihat sebuah kenyataan yang sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak mengkhawatirkan, jika melihat kondisi alat angkut yang membawa beratus bahkan beribu nyawa setiap harinya kondisinya tidak layak? Celakanya, kondisi yang tidak layak tersebut masih dibarengi dengan perilaku sopir yang “ugal-ugalan” dan kondisi jalan yang buruk juga, sehingga peluang kecelakaan pun semakin tinggi (3)

Berbicara tentang kelayakan angkutan umum, tentu perhatian kita akan mengarah pada pengujian kelayakan kendaraan umum yang di dalam pengujian tersebut akan dinyatakan apakah kedaraan tersebut layak jalan atau tidak. Pengujian ini seharusnya menjadi wahana bagi para sopir dan atau pemilik untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada angkutan demi memberi kenyamanan dan keselamatan pada penumpang. Namun, bagai menutup bangkai, kekurangan yang jelas-jelas telah diketahui malah diusahakan dengan berbagai cara agar jangan sampai diketahui petugas penguji. Sungguh sangat miris ketika beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah acara yang menayangkan bagaimana beberapa sopir menyiasati tes pengujian kelayakan kendaraan dengan menyewa ban dan mengganti onderdil yang sudah tidak layak hanya pada tes uji kelayakan saja. Dan setelah itu mereka memasang kembali ban dan onderdil yang sudah tidak layak tersebut. Harapan saya, semoga penggalakkan dan ketegasan pengujian kelayakkan kendaraan yang saat ini sedang ramai terjadi bukan hanya sekadar “obat penenang sementara” bagi masyarakat yang mulai “marah” pada angkutan umum dan integritas penanggung jawab keberadaan angkutan.(iv)

Banyak kecelakaan terjadi tidak hanya disebabkan oleh kurang layaknya kendaraan. Faktor manusia (human being error) banyak berbicara di sini. Sopir adalah aktor utama yang paling bertanggung jawab atas keselamatan kendaraan. Kondisi kesehatan yang buruk, kelelahan, dan ugal-ugalan dalam berkendara telah banyak menyebabkan petaka. Lebih kompleks lagi sekarang ini alkohol dan narkoba sudah “merakyat” sehingga tidak menutup kemungkinan dan sudah banyak sopir yang ikut mengkonsumsi. Hal ini harus menjadi perhatian lebih bagi pemerintah dan pemilik angkutan umum untuk menindak tegas sopir-sopir yang “nakal” seperti itu. Tindakan preventif pun sepertinya harus dilakukan pemerintah dengan memberikan penyuluhan kepada para sopir agar lebih bertanggung jawab atas keselamatan penumpang dan bersih dari miras dan narkoba.(5)

Terlepas dari kedua masalah di atas, tentu kita tidak dapat menafikan jika kondisi jalan yang buruk pun memberi andil yang cukup signifikan dalam maraknya kecelakaan yang belakangan ini sering terjadi. Memang tidak bisa kita pungkiri jika cuaca seperti sekarang ini telah banyak membuat kondisi aspal jalan menjadi rusak. Namun, hal tersebut jangan dijadikan sebagai sebuah pembenaran dan pemakluman akan banyaknya kondisi jalan yang buruk yang berakibat pada terjadinya kecelakaan. Pemerintah yang bertanggung jawab dalam hal ini Dinas PU seharusnya siap dan cekatan dalam menghadapi kondisi seperti ini. Jangan malah kondisi jalan yang buruk dibiarkan berlarut-larut sampai menimbulkan korban seperti yang sekarang ini terjadi.(6)

Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa kondisi kendaraan umum yang tidak layak jalan, human error dari sopir, dan kondisi jalan yang buruk adalah sebuah kombinasi sempurna untuk menjelaskan berbagai kecelakaan yang akhir-akhir ini terjadi. Dan sudah selayaknya semua pihak yang bertanggung jawab akan hal tersebut bahu-membahu bekerja sama dengan penuh kesadaran agar keselamatan dan kenyamanan di jalan raya baik bagi penumpang maupun pengguna jalan lainnya dapat tercapai. Tindakkan preventif baik berupa tes uji kelayakkan angkutan umum yang jujur maupun penyuluhan kepada sopir untuk tidak mengkonsumsi miras dan narkoba demi keselamatan harus segera dilakukan dengan serius. Sanksi tegas terhadap pihak terkait yang membelot pun sudah selayaknya segera dilakukan demi keselamatan bersama. (7)

Dari contoh esai diatas dapat kita ketahui bagian-bagian dari sebuah esai .


one.



Judul Esai, judul merupakan nama. Jadi usahakan memberi judul sebuah tulisan dengan kata-kata yang menggambarkan keseluruhan isi tulisan.


two.



No. two menunjukkan paragraf pendahuluan yang berisi latar belakang masalah dari penulisan esai.


3.



No. 3 berisi pandangan atau pendapat penulis terhadap permasalahan yang terjadi.


4.



No. 4, 5, vi merupakan paragraf yang menjabarkan pendapat atau pandangan penulis terhadap kejadian yang diangkat menjadi esai. Dibagian ini bisa disertai dengan bukti atau data pendukung untuk memperkuat pandangan atau pendapat kita agar pembaca percaya dengan pandangan kita tersebut.


five.



No. 7, merupakan bagian kesimpulan. Pada bagian ini penulis menyimpulkan apa yang telah ditulis. Penyimpulan harus sesuai dengan apa yang telah ditulis. Jagan membuat simpulan yang belum terulas pada paragraf sebelumnya (isi).

Di bawah ini merupakan contoh penggabungan esai dan kritik;


TIDAK DI NEGERI ANTAH BERANTAH

Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.

Cerpen
Tangisan Anakku
merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas kehidupan masyarakat. Soim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca dengan menampilkan problema kehidupan seorang pria yang bernama Huki, berpredikat sebagai kepala perkantoran yang bekerja di sebuah lembaga instansi negara, akan tetapi karena proses dalam menggapai itu semua dengan jalan yang bisa dibilang curang dan instan maka karir Huki berakhir suram dan pada akhirnya membuat pria dari tiga anak tersebut mengalami gangguan kejiwaan.

Siapapun orangnya setelah menempuh sekian tahun pelajaran di sekolah pasti sangat mendambakan lulus ujian nasional (United nations). Banyak usaha dan upaya yang dilakukan agar dapat lulus ujian nasional ini, dari cara-cara yang baik yaitu dengan belajar sungguh-sungguh sampai menggunakan cara yang tidak terpuji seperti membocorkan soal – soal yang akan keluar dalam ujian nasional tersebut. Semua itu dilakukan tidak lain agar dapat lulus dalam ujian nasional, syukur-syukur dapat lulus dengan hasil yang memuaskan.

Baca Juga :   Tempo Lagu Sayang Semuanya

Sebagai contoh, cerpen
Tangisan Anakku
karya Shoim Anwar. Bagaimana penyair ini memotret sitem pendidikan di negara ini yang semakin memprihatinkan. Dalam hal inilah “Tangisan Anakku” memperlihatkan orisinalitasnya yang khas dari gagasan penyairnya.

Perhatikan kutipan berikut.

“Huki, kamu kan siswa paling malas. Pingin lulus, kan?” tanya pak Dar, kepala sekolah kami.

“Ya, Pak,” aku mengangguk.

“Nah, perhatikan untuk semuanya. Jangan sampai ketahuan orang luar. Jaga, ya?”

“Bereeees,” kami serentak koor…….(Shoim Anwar, 2009: 102)”

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana sikap kepala sekolah yang berniat meluluskan semua siswa baik yang pintar dan malas dengan cara curang. Sistem pendidikan saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun pada kenyataan dilapangan, sering kali dilihat dari nilai raport yang dimanipulasi, jarang bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar.

Perhatikan kutipan berikut.

“Soal ujian, yang para pembuatnya harus dikarantina, soal disiman di kantor polisi dan dijaga ketat, pihak sekolah ketika mengambil dan menyetor harus dikawal polisi, ternyata tidak bemakna apa-apa. Aku dapat lulus dengan mudah berkat cara-cara di atas. Aku tak ingin kuliah, tapi aku ingin cari cepat bekerja agar dapat bayaran. Dengan bekal ijazah sekolah atas itulah aku daftar tes pegawai negeri…..(Shoim Anwar, 2009: 103)”

Dari kutipan di atas dijelaskan begitu banyak pilihan yang  bisa dilakukan oleh seorang siswa, terlepas apakah orang tua bisa mengerti ataupun tidak keinginan putra-putirnya. Tidak besekolah memag keputusan yang sangat berat, berbagai macam keberatan akan muncul, bagaimana dengan diskuis, bagaimana dengan penyamaan persepsi terhadap suatu permasalahan, jika tidak bersekolah, bagaimana dapat menemukan lingkungan yang kondusif untuk belajar, atau yang lebih umum, karena bangsa kita adalah bangsa yang gila gengsi dan gelar, bagaimana dengan pekerjaan, jika tidak punya gelar. Poin inilah yang paling menjanjikan, sekolah hanya untuk mencari gelar??.

Masa sekolah dan perguruan tinggi terlewati dengan mudah, Huki pun lolos tes uji dan diterima sebagai pegawai negeri. Berbekal ijazah yang didapat hanya kurang dari  dua tahun, Huki kini bisa menikmati kariernya sebagai pegawai pemerintah, hari-hari yang dilalui begitu santai, seakan tanpa beban namun gaji terus mengalir.

Perhatikan kutipan berikut.

“Terus terang, prestasi kerja di kantor memang tak ada peningkatan dan hanya rutinitas. Aku mengalami dan merasakan karena aku juga pelakunya. Para personilnya banyak mengantongi gelar baru yang lebih tinggi, tapi ilmu dan sikap mereka tambah merosot kerena gelar itu diperoleh dengan cara instan. Mereka, aku juga, minta jabatab dan tunjangan-tunjangan lebih banyak karena punya gelar baru. Dari uang rakyat, negara harus mengeluarkan biaya lebih banyak lagi bagi birokrat yang modelnya kayak gini. Tapi apa boleh buat. Toh mereka yang di atas juga memberi contoh demikian …..(Shoim Anwar, 2009: 106)””

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana aktifitas pegawai negeri yang tiap hari hanya mengobrol dari lorong-lorong ketawa ketiwi, tidak ada beban pekerjaan, sambil menunggu proyek turunan. Cara mencari duit mereka salah satunya dengan menaikkan gelar, perjalanan dinas fiktif, dari sliip atau invoice hotel, tiket pesawat, tiket boarding pass, semua bisa dipalsukan allonym kalau perjalanan dinas kalau tidak berangkat malah mendapat duit. Kita bisa lihat di kantor-kantor kelurahan dan kecamatan, pelayanan masyarakat hanya isapan jempol belaka, pukul ten-11 masih pada kosong. Di tempat dinas yang lain, pegawai juga hanya datang absesn langsung pulang dan sore datang lagi untuk absen saja. Jadi untuk apa mereka menjalani itu semua, mengejar prestasi..?? Ironi sekali negara ini.



2.2





Kritik

Bagi seseorang yang mempunyai kemampuan untuk memahami sesuatu karya sastra, berusaha mengungkapkan segala sesuatu yang terselubung didalam karya sastra yang dibacanya seperti masalah makna, nilai, dan hakikat karya sastra itu secara umum. Semuanya dilakukan secara sistematis dengan metode kerja yang cukup jelas dapat dinamakan suatu kritik sastra. Dalam melakukan kritik sastra, biasanya kritikus bertindak dalam suatu kerangka berpikir yang jelas dengan tujuan untuk membina dan menumbuhkan kehidupan dunia kesastraan yang lebih baik, walaupun didalam kritik yang dilakukan ditemui adanya unsur “kecaman” atau memperlihatkan kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam sebuah karya sastraa.

Kritik sastra adalah salah satu cabang studi sastra disamping teori sastra dan sejarah sastra. Kritik sastra memang sering diidentikan dengan istilah timbangan, bedah karya, sorotan, tintingan dan ulasan. Inti dari kegiatan kritik sastra ialah memahami sastra secara kritis. Banyak yang merunut etimologi kritik sastra. Etimologi ini yang menuntun keharusan kritik sastra itu perlu ada atau tidak. Kata kritik ini berasal dari bahasa Yunani Kuno
krites
yang berarti hakim, dari kata kerja
krinein
yang artinya dasar menghakimi, yang merupakan pangkal kata
kritikas
yang berarti penghakiman, dan dari sini timbul kata
kritikos
yang berarti hakim karya sastra (Hardjana, 2013:2).

Kritik sastra merupakan kegiatan atau perbuatan mencari dan menentukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran
sistematik yang dinyatakan dalam bentuk tertulis (Harjana dalam Semi, 1990:16).

Kritik diartikan sebagai kecaman atau tanggapan yang terkadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruknya suatu hasil karya (KBBI, 2005:601). Dalam hal ini kaitannya dengan karya sastra, kritik sastra diartikan sebagai tanggapan atau respon pembaca terhadap hasil karya sastra, baik itu berupa karya puisi ataupun prosa seperti cerpen maupun novel. Kritik sastra ditulis secara sistematis dan di dalamnya terdapat penilaian baik buruk. Panjang pendeknya sebuah tulisan kritik tidaklah ditentukan. Kritik sastra bisa ditulis panjang atau pendek sesuai dengan kebutuhan dan kedalaman isi. Meskipun mengungkapkan pandangan penulis, kritik tetap harus ditulis secara objektif karena berlandaskan sebuah hasil karya yang real.

Lain halnya dengan pendapat di atas,

H.B. Jas
southward
in mengemukakan bahwa kritik kesusastraan adalah pertimbangan baik atau buruk suatu hasil kesusastraan. Pertimbangan itu disertai dengan alasan mengenai isi dan bentuk karya sastr
\, dengan alasan-alasan mengenai isis dan bentuk hasil kesusastraan (dalam Endraswara, 2013:3)
.

Senada dengan pendapat H.B. Jassin,

Widyamartaya dan Sudiati (2004:117) berpendapat bahwa kritik sastra adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat, dan pertimbangan yang adil terhadap baik-buruknya kualitas, nilai, kebenaran suatu karya sastra. Memberikan kritik dan esai dapat beromanfaat untuk memberikan  panduan yang memadai kepada pembaca  tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis karya tersebut akan memper
o
leh masukan, terutama tentang kelemahannya.

Lebih terperinci lagi Endraswara (2013:4) menjelaskan dalam melakukan kritik terhadap sebuah karya sastra itu, kritikus menetapkan pengertian, menggolong-golongkan, menguraikan atau memecah-mecah sebuah karya sastra ke dalam unsur-unsur pembentuknya atau norma-normanya, disertai tafsiran-tafsiran, dan pada akhirnya menerangkan karya satra yang di kritik tersebut, bagaimana kelebihan-kelebihannya dan bagaimana cacat-cacat atau kekurangannya dengan alasan-alasan dan komentar-komentar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam melacaki sastra, atau katakanlah dalam melakukan kritik sastra, seorang kritikus tidak bertindak melakukan semaunya. Ia mesti melalui suatu proses penghayatan keindahan yang serupa dengan proses yang dilalui pengarang dalam melahirkan karyanya. Perbedaan antara perbuatan mengkritik dan perbuatan mengarang terletak pada pangkal tolak dan titik akhirnya. Proses penghayatan pengarang dalam menceritakan karyanya berpangkal atau bersumber pada persepsi, baik persepsi alaamiah faktual lewat daya indra dan daya khayal, maupun persepsi khayali yang semata-mata menggunakan daya angan-angan. Kedua persepsi itu oleh pengrang dipadukan menjad satu pengarang baru yang bergerak di dalam batinnya
yang kemudian mendorongnya untuk mengungkapkan pengalamaan batin itu dalam bentuk karya yang menggunakan bahasa mediumnya. Proses keindahan yang dialami oleh seorang kritikus sastra bermula dari pengamatan dan pencernaan suatu karya sastra. Dalam penghaayatan itu seorang kritikus juga dapat larut lewat persepsinya atas karya yang dihadapinya. Meskipun persepsinya juga tergantung pula pada ketajaman imajinasi, penghayatan itu tidak terlepas dari fakta yang dihadapinya yaitu karya sastra itu sendiri.

­­­­



2.2.1





Jenis- jenis Kritik

Jenis-jenis kritik sastra dapat dikelompokan berdasarkan beberapa sudut pandang;


i.



Berdasarkan Bentuk

Berdasarkan bentuknya, kritik sastra dibedakan menjadi kritik teoretik dan kritik praktik (Abrams).


a.



Kritik teoretik adalah bidang kritik sastra yang berusaha menetapkan atas dasar prinsip-prinsip umum, seperangkat istilah-istilah yang tali-temali, perbedaan-perbedaan dan kategori-kategori untuk diterapkan pada kriteria (standar atau norma-norma) yang dengan hal tersebut karya sastra dan sastrawannya dinilai.


b.



Kritik praktik mengacu pada praktik kritik yang telah diterapkan oleh para kritikus dalam mengkritik karya sastra.


ii.



Berdasarkan Pelaksanaannya

Menurut pelaksanaan (praktik) kritiknya, kritik sastra dibedakan menjadi kritik judisial,kritik iduktif dan kritik inpresionistik (Abrams dan Hudson via Pradopo, 1994).


a.



Kritik jud
i
sial adalah kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menilai karya sastra atas dasar standar-standar umum tentang kehebatan atau keluarbiasaan sastra yang telah ditetapkan sebelumnya.


b.



Kritik i
n
duktif adalah kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif.


c.



Kritik impresionistik adalah kritik sastra yang mengemukakan kesan-kesan kritikus

secara subjektif

terhadap karya sastra yang telah dibacanya.





iii.



Berdasarkan Orientasinya

Berdasarkan orientasinya terhadap karya sastra, Abrams (1981) membedakan kritik mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif, dan kritik objektif.


a.



Kritik mimetik adalah kritik yang berorentiasi atau memfokuskan perhatian pada hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan.


b.




Kritik pragmatik adalah kritik yang berorientasi atau memfokuskan perhatian kepada tanggapan pembaca terhadap karya sastra dan dampak atau pengharu sastra pada pembaca.


c.



Kritik ekspresif adalah kritik sastra yang berorientasi atau memfokuskan perhatian kepada pengarang sebaai pencipta karya sastra.


d.



Kritik objektif adalah kritik yang berorentasi atau memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri.


iv.



Berdasarkan Cara Kerja Kritikus


a.



Kritik penghakiman

adalah kritik yang bekerja secara deduksi dengan berpegang teguh pada ukuran-ukuran tertentu, untuk menetapkan apakah  sebuah karya itu baik atau tidak.


b.



Kritik teknis

adalah kritik yang bertujuan menunjukan kelemahan-kelemahan tertentu dari sebuah karya agar pengarangnya dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan dikemudian hari.


c.




Kritik sastra intrinsik, yaitu menganalisis karya sastra berdasarkan unsur intrinsiknya, sehingga akan diketahui kelemahan dan kelebihan yang ada dalam karya sastra.


d.



Kritik sastra ekstrinsik, yaitu menganalisis dengan cara menghubungkan karya sastra dengan penulisnya, pembacanya , atau masyarakatnya. Disamping itu juga melibatkan faktor ekstinsik lain seperti sejarah, psikologi, relegius, pendidikan dan sebagainya.


5.



Berdasarkan Penulis dan Corak Kritiknya


a.



Kritik sastra akademik atau ilmiah adalah kritik sastra yang ditulis oleh para ahli sastra yang pada umumnya pada sarjana sastra dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.


b.



Kritik sastra Jurnalistik atau kritik sastrawan ditulis oleh para kritikus sastrawan ataupun umum dengan tidak mempergunakan teori dan metode ilmiah biasanya bercorak ekspresif dan impresionistik.



2.2.2





Fungsi Kritik

Dalam mengkritik karya sastra, seorang kitikus tidaklah bertindak semaunya. Ia harus melalui proses penghayatan keindahan sebagaimana pengarang dalam melahirkan karya sastra. Karena kritik sastra sebagai kegiatan ilmiah yang mengikat kita pada asas-asas keilmuan yang ditandai oleh adanya kerangka, teori, wawasan, konsep, metode analisis dan objek empiris.

Setidaknya, ada beberapa manfaat kritik sastra yang perlu untuk kita ketahui.

one.


Kritik sastra berfungsi bagi perkembangan sastra

Dalam mengkritik, se
southward
eorang kritikus akan menunjukkan hal-hal yang bernilai atau tidak bernilai dari suatu karya sastra. Kritikus bisa jadi akan menunjukkan hal-hal yang baru dalam karya sastra, hal-hal apa saja yang belum digarap oleh sastrawan. Dengan demikian, sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memerluas cakrawala kreativitas, corak, dan kualitas karya sastranya. Jika sastrawan-sastrawan mampu menghasilkan karya-karya yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dengan kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreativitas sastrawan, dan pada akhirnya akan meningkatkan perkembangan sastra itu sendiri.

2.


Kritik sastra berfungsi untuk penerangan bagi penikmat sastra

Dalam melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar, menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya sastra yang dikritik. Dengan demikian, pembaca awam akan mudah memahami karya sastra yang dikritik oleh kritikus.Sementara itu, ketika masyarakat sudah terbiasa dengan apresiasi sastra, maka daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra akan semakin baik. Masyarakat dapat memilih karya sastra yang bermutu tinggi, misalnya karya sastra yang berisi nilai-nilai kehidupan, memerhalus moral, memertajam pikiran, kemanusiaan, dan kebenaran.

3.


Kritik sastra berfungsi bagi ilmu sastra itu sendiri

Analisis yang dilakukan kritikus dalam mengeritik harus didasarkan pada referensi-referensi dan teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra baru yang seperti inilah yang justru akan mengembangkan ilmu sastra itu sendiri. Karena,  seorang pengarang akan dapat belajar melalui kritik sastra dalam memerluas pandangannya, sehingga akan berdampak pada meningkatnya  kualitas karya sastra.

Fungsi kritik sastra  akan menjadi kenyataan karena adanya tanggung jawab antara kritikus dan sastrawan serta tanggung jawab mereka dalam memanfaatkan kritik sastra tersebut.


Kritik sastra dengan begitu, tidak perlu diragukan bahwa adanya kritik yang kuat serta jujur di medan sastra akan membawa pada meningkatnya kualitas karya sastra. Karena sastrawan akan memiliki perhitungan sebelum akhirnya dipublikasikannya karya sastra tersebut. Oleh sebab itu, ketiadaan kritik pada medan sastra akan membawa pada munculnya karya-karya sastra yang picisan.

Baribin memperjelas, bahwasanya tidak semua kritik sastra dapat menjelaskan fungsinya, oleh sebab itu kritik sastra harus memiliki tanggung jawab atas tugasnya serta mampu membuktikan bahwa dengan adanya kritik yang dilakukan oleh kritikus mampu memberikan sumbangan yang berharga terhadap pembinaan dan pengembangan sastra. Karena itu kritik sastra berfungsi apabila (1)

disusun atas dasar untuk meningkatkan dan membangun sastra, (2) melakukan kritik secara objektif, menggunakan pendekatan dan metode yang jelas, agar dapat dipertangungjawabkan, (three)


mampu memperbaiki cara berpikir, cara hidup, dan cara bekerja sastrawan, (iv)

dapat menyesuikan diri dengan ruang lingkup kebudayaan dan tata nilai yang berlaku, dan (five)


dapat membimbing pembaca untuk berpikir kritis dan dapat meningkatkan apresiasi sastra masyarakat.

Baca Juga :   Daya Tahan Artinya Teknologi Artinya Pengemasan Artinya Kedap Udara Artinya

Berkaitan dengan kritik sastra, esai adalah karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengemukakan pendiriannya, pikirannya, cita-citanya, atau sikapnya terhadap suatu persoalan yang disajikan. Dengan kata lain, esai sastra adalah karangan pendek yang merupakan laporan hasil eksplorasi penulis tentang karya atau beberapa karya sastara yang sifatnya lebih banyak menekankan sensasi dan kekaguman penelaah tentang hasil hasil bacaannya atau hasil belajarnya.



ii.2.iii





Ciri-ciri Kritik

Pada umumnya sebuah kritik memiliki ciri-ciri sebagai berikut;



a.





Bersifat menanggapi/mengomentari karya orang lain



b.





Menunjukkan kelebihan dan kekurangan



c.





Memberi saran perbaikan







d.





Bertujuan menjembatani pemahaman pembaca/apresiator/apresian dengan karya sastra bersangkutan







two.two.4





Langkah Penulisan Kritik

Kritik sastra adalah tanggapan objektif dari seseorang terhadap suatu karya orang lain dengan menguraikan secara rinci baik buruknya sebuah karya.

Membuat kritik sastra itu mudah.


1.



Pilihlah pengarang yang anda sukai

Agar membuat kritik sastra mudah kita lakukan, pilihlah pengarang yang kita sukai. Karena dengan mengandalkan hal itu kita bisa leluasa menulis dengan  penetahuan kita terhadap biodata, karakter tulisan dan karya-karyanya. Sehingga persepsi yang kita kemukan tidak akan menjadi abstrak.


2.



Pilihlah materi yang paling anda kuasai

Penguasan materi perlu juga dipertimbangkan dalam peembuatan kritik sastra. Sebab, dengan itu kita dapat mengesplorasi pendapat kita dengan landasan yang tepat sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan diterima oleh semua pihak.


3.



Masukanlah beberapa pandangan orang terhadap karya tersebut

Memasukan pendapat orang/ahli dalam kritik sastra yang kita buat akan membantu mempertajam kritik sastra tersebut. Hal tersebut juga dapat memberikan gambaran hal-hal yang harus kita kritik agar kritk sastra yang kita buat tepat sasaran.


4.



Mulailah menulis kritik

Jika telah menetapkan tujuan dan motivasi, segeralah menulis. Jangan ditunda, karena dengan terus berusaha menulis ide-ide akan muncul, mengalir sedikit demi sedikit.

Berikut tahap-tahap dalam penulisan kritik sastra;


1.

Tahap Deskripsi

Tahap deskripsi karya sastra merupakan tahap kegiatan mamaparkan data apa adanya, misalnya mengklasifikasikan data sebuah cerpen atau novel berdasarkan urutan cerita, mendeskripsikan nama-nama tokoh uatama dan tokoh-tokoh bawahan yang menjadi ciri fisik maupun fisikisnya, mendata latar ruang dan waktu atau latar sosial tokoh-tokohnya, dan mendeskripsikan alur setiap bab atau setiap episode.

ii.


Tahap Penafsiran

Tahap penafsiran karya sastra merupakan penjelasan atau penerangan karya sastra. Menafsirkan karya sastra berarti menangkap makna karya sastra, tidak hanya menurut apa adanya, tetapi menerangkan juga apa yang tersirat dengan mengemukakan pendapat sendiri.

3.


Tahap Analisis

Tahap Analisi merupakan tahap kritik yang sudah menguaraikan data. Pada tahap ini kritikus sudah mencari makna dan membandingkan-bandingkan dengan karya sastra lain, dengan sejarah atau dengan yang ada di masyarakat

4.

Tahap Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir suatu kritik sastra. Dalam suatu evaluasi dapat dilakukan melalui pujian, seperti berbobot, baik, buruk, menarik, dan unik. Sebaliknya, dapat pula dilakukan pencemohan, ejekan, dianggap jelek dan tidak bermutu, serta tidak menyentuhnilai-nilai kemanusiaan. Jadi kritik sastra mencapai kesempurnaan setelah diadakan evaluasi atau penilaian.



2.two.5





Contoh Kritik

Di bawah ini adalah salah satu
contoh kritik sastra

;

Djenar Maesa Ayu. Siapa yang tidak mengenal sosok perempuan ini? Berarti orang tidak berdekatan dengan sastra. Dia seorang cerpenis, penulis kritik sastra juga, sekarang sudah menerbitkan sebuah novel.

Karya-karya Djenar yang lebih pada cerpen sering kali bernuansa ironi, sinisme, bahkan sarkasme. Dengan bahasa yang kasar namun tetap elegan –bagi saya tentunya– membuat karya-karya layak diperhitungkan dalam dunia kesusatraan Indonesia.

Salah satu karya yang

di
bahas di sini adalah kumpulan cerpennya yang berjudul
Jangan Main-Master dengan Kelaminmu
yang banyak menuai kontroversi. Banyak kelompok, terutama perempuan yang agamis, mengecam karyanya Djenar.

Mereka bilang karya Djenar itu vulgar dan tanpa tendeng aling-aling untuk membicarakan hal yang tabu dalam karyanya. Djenar itu selalu menghasilkan karya yang berbau porno. Namun, biarlah mereka bilang porno dari kacamata mereka yang menyamakan cerpen Djenar sama seperti mereka membaca majalah Playboy.

Jika kita lebih bijaksana dalam menilai sesuatu tentunya kita akan menilai sebuah karya dari berbagai sudut pandang, tidak melihat dari satu sisi saja. Bukankah hidup manusia itu terdiri atas berbagai macam frame?

Begitu pun karya sastra, yang tidak bisa dinilai dari satu sisi saja. Jika bahasa djenar itu vulgar, bagai saya itu hanya gaya seseorang saja dalam menyampaikan gagasannya.

Dalam kumpulan cerpen
Jangan Chief-Main dengan Kelaminmu, Djenar menggambarkan sebuah dunia yang dipenuhi dengan orang-orang yang sakit, dunia orang-orang yang terluka, terasingkan, dan terkhianati. Dalam kumpulan cerpen ini kita dapat menyimpulkan bahwa di dunia yang jahat ini tidak ada pijakan yang kokoh untuk dijadikan pegangan hidup.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan seolah datang dari sisi gelap dunia, jahat, sinis, dan jauh dari kesan hero. Mereka yang hadir dalam kumpulan cerpen ini penuh paradoks. Orang-orang yang merindukan kebebasan dengan cara apa pun. orang-orang yang ingin mencari kebahagian di tengah dunia yang menyakitinya.

Seperti dalam kutipan cerpen

Jangan Main-Primary


dengan Kelaminmu


ini

misalnya,



Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian orang menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. sebagian lagi menganggap saya murahan.







Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Padahal saya tidak pernah membual. Padahal saya tidak pernah merasa sok gagah. Padahal saya tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak merasa murahan.




Dalam kalimat yang satir itu Djenar mengungkapkan bagaimana pembelaan karakter yang dilakukan oleh tokohnya. Bahwa dia merasa benar atas apa yang dilakukannya meski pada kenyataannya dalam cerpen itu dia melakukan apa-apa yang dianggap amoral oleh masyarakat.

Pesan yang bisa diambil dari kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu adalah berbanggalah menjadi diri sendiri dan bersyukurlah terhadap apa yang telah kita dapati. Tetap hidup dan

meneruskan perjuangan meski apa pun yang terjadi.


Contoh kritik sastra novel laskar pelangi ;


Novel Laskar Pelangi


(Andrea Hirata)

Cerita dari sebuah daerah di Belitung, yakni di SD Muhammadiyah. Saat itu menjadi saat yang menegangkan bagi anak-anak yang ingin bersekolah di SD Muhammadiyah. Kesembilan murid yakni, Ikal, Lintang, Sahara, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani tengah gelisah lantaran SD Muhammadiyah akan ditutup jika murid yang bersekolah tidak genap menjadi 10. Mereka semua sangat cemas. SD Muhammadiyah adalah SD islam tertua di Belitung, sehingga jika ditutup juga akan kasihan pada keluarga tidak mampu yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka. Di sinilah anak-anak yang kurang beruntung dari segi materi ini berada.

Saat semua tengah gelisah datanglah Harun, seorang yang keterbelakangan mental. Ia menyelamatkan ke sembilan temannya yang ingin bersekolah serta menyelmatkan berdirinya SD Muhammadiyah tersebut. Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda fourscore km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.

Semua kejadian tersebut sangat menghiasi kehidupan kesepuluh anak yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Bu Mus yang meupakan guru terbaik yang mereka milikilah yang telah memberikan nama tersebut untuk mereka. Karena bu Mus tahu mereka semua sangat menyukai pelangi. Saat susah maupun senang mereka lalui dalam kelas yang menurut cerita pada malam harinya kelas tersebut sebagai kandang bagi hewan ternak. Di SD Muhammadiyah itulah Ikal dan kawan-kawannya memiliki segudang kenangan yang menarik.

Seperti saat kisah percintaan antara Ikal dan A Ling. Awalnya Ikal disuruholeh Bu Mus untuk membeli kapur di tokoh milik keluarga A Ling. Ia jatuh cinta pada kuku A Ling yang indah. Ia tidak pernah menjumpai kuku seindah itu. Kemudian ia tahu bahwa pemilik kuku yang indah tersebut adalah A Ling, Ikal pun jatuh cinta padanya.  Namun, pertemuan mereka harus di akhiri lantaran A Ling pindah untuk menemani bibinya yang sendiri.

Kejadian tentang Mahar yang akhirnya mnemukan ide untuk perlombaan semacam karnaval. Mahar menemukan sebuah ide untuk menari dalam acara tersebut. Mereka para laskar pelangi menari sperti orang kesetanan, hal tersebut dikarenakan kalung yang mereka kenakan dari buah yang langkah dan hanya ada di Balitong, merupakan tanaman yang membuat seluruh badan gatal. Alhasil mereka pun menari layaknya orang yang tengah kesurupan. Namun berkat semua itu akhirnya SD Muhammadiyah dapat memenagkan perlombaan tersebut.

Namun, pada uatu ketika datanglah Flo, seorang anak yang kaya pindahan ari SD PN, ia masuk dalam kehidupan laskar pelangi. Sejak kedatangan Flo di SD Muhammadiyah tersebut yang membawa pengaruh buruk bagi teman-temannya terutama Mahar, yang duduk satu bangku dengan Flo. Sejak kedatangan anak tersebut nilai Mahar seringkali jatuh dan jelek sehingga membuat bu Mus marah dan kecewa.

Hari-hari mereka selalu dihiasi dengan canda dan tawa maupun tangis. Namun di balik semua kecerian mereka, ada seorang murid yang benama Lintang yakni anggota laskar pelangi yang perjuangannnya terhadap pendidikan perlu di acungi jempol. Ia rela menempuh jarak fourscore km untuk pulang dan pergi dari rumahnya ke sekolah hanya untuk agar ia bisa belajar. Ia tidak pernah mengeluh meski saat perjalanan menuju sekolahnya ia harus melewati sebuah danau yang terdapat buaya di dalamnya. Lintang merupakan murid yang sangat cerdas. Terbukti saat ia, Ikal, dan juga Sahara tengah berada pada sebuah perlombaan cerdas cermat. Ikal dapat menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal,  dengan jawabannya yang membuat ia memenangkan lomba cerdas cermat.

Namun sayang, semua kisah indah laskar pelangi harus diakhiri dengan perpisahan seorang Lintang yang sangat jenius tersebut. Lintangdan awan-kawan membuktikan bahwa bukan karena fasilitas yang menunjang yang akhirnya dapat membuat seseorang sukses maupun pintar, namun kemauan dan kerja keraslah yang dapat mengabulkan setiap impian. Beberapa hari kemudian, setelah perlombaan tersebut Lintang tidak masuk sekolah dan akhirnya mereka kawan-kawan Lintang dan juga bu Mus mendapatkan surat dari Lintang yang isinya, Lintang tidak dapat melnjutkan sekolahnya kembali karena ayahnya meninggal dunia. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah kesedihan yang mendalam bagi anggota laskar pelangi.

Beberapa tahun kemudian, saat mereka telah beranjak dewasa, mereka semua banyak mendapat pengalaman yang berharga dari setiap cerita di SD Muhammadiyah. Tentang sebuah persahabatan, ketulusan yang diperlihatkan dan diajarkan oleh bu Muslimah, serta sebuah mimpi yang harus mereka wujudkan. Ikal akhirnya bersekolah di Paris, sedangkan Mahar dan teman-teman lainnya menjadi seseorang yang dapat membanggakan Belitung.


Kritik


a.



Dalam novel Laskar Pelangi ini novelnya terlalu panjang sehingga para pembaca akan merasakn cepat bosan dan terlalu hambar,sebaiknya novel ini diceritakan lebih ringkas lagi agar para pembaca tidak terlalu bosan dengan membaca novel ini.


b.



Dalam novel ini tokohnya terlalu datar tidak ada perubahan tokoh sehingga membuat bosan bagi pembaca,sebaiknya ada perubahan dalam penokohanya.


c.



Novel ini membuat para pembacanya mendapat sedikit kesulitan karena adanya Bahasa Melayu, adanya ungkapan dan khiasan dalam kalimat membuat cerita ini sedikit terasa sulit.

Dari contoh diatas kita dapat mempelajari banyak hal tentang kritik sastra. Dari ketepatsasaran objek, penetahuan akan sosok penulis yang item dan pembandingan yang tepat mengantarkan kritik sastra ini kedalam ketajaman yang akurat walau singkat. Hal ini dapat kita jadikan referensi dalam penulisan kritik sastra


BAB Iii


PENUTUP



three.one





Simpulan

Berdasarkan makalah yang telah kami buat dapat

dis
impulkan bahwa


Esai adalah karangan prosa



yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat breezy dan formal sedangkan Kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.




Esai sastra, dengan

demikian,  bagian dari kritik sastra yang memunyai ciri dan karakteristik sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat membedakan yang mana kritik dan yang mana esai sastra, ketika kita membutuhkan referensi untuk kepentingan penelitian ataupun penambah wawasan dalam mengasah karya esai kita. Dalam hal ini esai sastra hanya bersifat mengemukakan masalah atau persoalan kepada khalayak ramai, dan bagaimana penyelesaian tersebut terarah kepada pembaca. Sedangkan kritik sastra adalah penilaian terhadap suatu karya sastra melalui proses dengan menggunakan kriteria tertentu.

Esai sastra mempunyai persamaan yang erat dengan kritik sastra teoretis, yang banyak membicarakan
tentang konsep, teori, dan metodologi. Dengan begitu, yang membedakan esai dengan kritik adalah: esei sastra merupakan telah sastra yang menyangkut aspek teorotis sedangkan kritik sastra menyangkut telaahan dan praktis. Tegasnya, esei sastra menyaangkut bahasan tentang sejarah, teori sastra, sastra bandingan, proses kreatif, konsepsi estetik, periodisasi, dan lain. Didalam sebuah esei, sedikit banyaknya aktivitas kritik seperti aspek penghayatan, pengapresiasian, penganalisisan, dan penilaian juga dilakukan tetapi sacara umum dengan lebih menitikberatkan perhatian kepada nilai akademik atau teorotisnya. Sebenarnya, apa saja yang dibicarakan tentang sastra boleh dinamakan esai sastra.

Memberikan kritik dan esai dapat bermanfaat untuk memberikan panduan yang memadai kepada pembaca tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis karya tersebut akan memperoleh masukan, terutama tentang kelemahannya.



iii.two





Saran-saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan dapat menjadi referensi bagi para pembaca dalam penulisan esai dan kritik dengan baik dan benar. Selain itu, saran dan kritik dari para pembaca juga sangat dibutuhkan demi perkembangan bahasan makalah ini selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi.2013.Teori Kritik Sastra.Yogyakarta:CAPS (Center for Bookish Publishing Service)

Hardjana, Andre. 2013.
Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Utama.

Jassin H. B. 1945.
Sastra Republic of indonesia Modern dalam Kritik dan Essay.

Semi, Atar.1990.
Metode Penelitian Sastra.Bandung:Angkasa

Rampan, Korrie Layun.2010.Antologi Apresiasi Sastra Indonesia Moderen.
Yogyakarta:Narasi (Anggota IKAPI)

Rokhmansyah, Alfian.2014.Studi dan Pengkajian Sastra.Yogyakarta:Graha Ilmu

Kalimat Esai Novel Laskar Pelangi

Source: http://herizachaniago.blogspot.com/2015/12/penulisan-esai-kritik.html