Piranti Wayang Kulit

Piranti Wayang Kulit

Pagelaran wayang, sebuah pertunjukan yang unik dengan banyak peralatan yang terlibat di dalamnya. Ada peralatan utama maupun yang bersifat penunjang. Peralatan utama terdiri dari wayang, kotak,
cempala
tangan,
cempala
kali,
keprak,
kelir
atau layar,
debog
atau batang pohon pisang,
blencong
atau pelita, dan gamelan. Pada pembahasan artikel ini, kita akan melihat salah satu piranti yang digunakan sebagai penerangan dalam pagelaran wayang kulit. Piranti tersebut adalah “blencong”.
Blencong
juga menjadi salah satu koleksi dari Museum Wayang Kekayon Yogyakarta yang dipajang di Unit i bersama dengan diorama panggung pertunjukan wayang.

Blencong
adalah komponen penting kedua dalam pagelaran. Secara kontekstual, makna
blencong
ini ibarat ‘cahaya’ atau penerangan dalam kehidupan manusia. Sumber cahaya dibutuhkan dalam keberlangsungan hidup. Tidak hanya manusia saja, tumbuhan, hewan, dan organisme lain pun juga membutuhkan cahaya. Penafsiran dan fungsi cahaya ini pun bermacam-macam menurut sudut pandang pembahasannya, bisa bermakna konotasi sebagai petunjuk kehidupan atau bermakna denotasi sebagai sumber energi atau penerangan.


Blencong

.

Merupakan sumber cahaya berbentuk lampu minyak untuk penerangan dalam pagelaran wayang kulit. Berfungsi menimbulkan efek-efek bayangan pada tirai kain putih (atau yang disebut
kelir
dalam dunia pedalangan) untuk menangkap bayangan dari wayang kulit. Dengan menggunakan bahan bakar minyak kelapa dan bersumbu benang
lawe, blencong geni
menjadi sumber cahaya dalang dalam memainkan wayang kulitnya. Lampu
blencong
memiliki berbagai macam bentuk seperti burung Jatayu dan adapula yang seperti celengan dengan sayap kiri dan kanan. Bahan pembuatannya bisa dari perunggu, dengan memiliki lubang di tengah untuk menaruh minyak dan sumbu menghadap ke arah
kelir.

Wayang yang memiliki cat dasar emas akan terlihat lebih hidup dan artistik pada bayangannya saat dipancarkan cahaya dari
blencong.
Belum lagi terbantu oleh terpaan angin saat dalang memainkannya, tentunya akan membawanya ke efek visual tersendiri.

Baca Juga :   He is in Kelud Mountain

Untuk tetap menjaga api agar tak padam pada
Blencong, Dalang perlu mengecek dan mengatur sumbunya, agar sinarnya sesuai dengan kebutuhan pagelaran. Dengan menggunakan capit atau sapit, biasanya diperlukan untuk menjepit sumbu
Blencong
yang terbuat dari kain atau kapas dalam bentuk tali. Perlunya juga kehati-hatian seorang Dalang sendiri atau dilakukan oleh Asisten Dalang (panjak) dalam menggunakan sumpit, karena kain sebagai sumbu
blencong
mudah terbakar jika terkena percikan api.

Blencong
dipasang tegak lurus di sisi atas tengah
gawangan, biasanya digantung dan dikaitkan di ujung piranti kayu maupun logam yang juga disebut
ajon-ajon. Pemasangan ini disesuaikan dengan melihat kebutuhan pencahayaan pada pergelaran. Panjang
ajon-ajon
kurang lebih sekitar threescore-70 cm. Tingginya pemasangan
blencong
biasanya sejengkal di atas kepala seorang Dalang.

Seiring perkembangan zaman,
blencong geni
saat ini sudah jarang digunakan karena dianggap tak praktis dan cahaya yang kurang terang. Lampu Petromak hadir sebagai pengganti dalam perkembangannya, belum lagi di jaman yang serba listrik ini,
blencong
diganti dengan lampu bohlam atau pijar. Hal itu disiasati menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan saat ini, ketika pagelaran wayang diselenggarakan di lapangan luas dan akbar,
blencong
digantikan dengan lampu element of group vii 1000
watt.
Akan tetapi,
blencong geni
terkadang digunakan untuk pagelaran yang bersifat ritual, semisal
Upacara Ruwatan
di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta.

Api lampu
Blencong
dan
Kelir
wayang punya daya getar. Perpaduan keduanya bisa memberi
urip
(nafas hidup). Seiring tiupan angin yang menggoyang-goyang api
blencong, sosok wayang kulit akan semakin menjadi hidup.

Oleh Anisyah Padmanila Sari, Duta Museum Wayang Kekayon

Piranti Wayang Kulit

Source: https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/949-blencong

Baca Juga :   Bagaimana Proses Islamisasi Di Andalusia Jelaskan