Rachel Vennya di Atas Papan Monopoli


Ilustrasi (Raga Granada/VOI)

JAKARTA – Monopoli adalah salah satu
board game
paling populer di dunia. Tapi, tahukah Anda bahwa filosofi Monopoli didasari pada sindiran ideologis terhadap kapitalisme? Di dunia yang uang jadi segalanya, keadilan jadi bias. Kita melihatnya, banyak orang tersadarkan realita ini lewat kasus Rachel Vennya, di mana peradilan begitu subjektif terasa.

Rachel Vennya telah divonis bersalah dalam kasus pelanggaran karantina COVID-nineteen. Rachel, dalam proses persidangan juga mengaku memberi suap. Namun hakim memutuskan tak menahan Rachel dengan pertimbangan si selebgram sopan. Putusan hakim jadi sorotan publik. Beberapa diskusi muncul, termasuk mereka yang mengaitkan kasus ini dengan permainan Monopoli.

“Alasan Rachel Vennya enggak dipenjara,” tulis akun Twitter
@digidegu
dalam unggahan gambar yang dikutip

VOI
, Senin, 11 Desember. Hanya lima kata, yang kami sadari begitu kuat jika melihat filosofi permainan Monopoli.

Gambar itu menampilkan ‘Kartu Bebas Penjara’ dalam permainan Monopoli. Di kartu itu tertulis:
Bebas dari penjara. Kartu ini disimpan. Dipakai bila perlu atau boleh dijual.

Dalam permainan Monopoli, Kartu Bebas Penjara adalah bagian penting dari permainan, selain Kartu Dana Umum. Kartu Bebas Penjara juga jadi kritik paling tegas dalam filosofi yang ditanamkan di permainan Monopoli.

Iya. Permainan Monopoli sejatinya adalah kritik terhadap sistem kapitalisme yang bergulir di dunia. Dalam permainan Monopoli kita bisa dipenjara karena beberapa hal: pion berhenti di kotak aera penjara, melempar dadu kembar tiga kali, mendapat perintah dari Kartu Dana Umum atau Kartu Kesempatan.

Nah, dengan Kartu Bebas Penjara kita bisa keluar dari penjara. Kartu itu juga bisa dijual dengan harga tertentu yang tertera di badan kartu. Sebuah kritik soal sistem hukum transaksional yang berlaku di tengah alam kapitalisme.

Filosofi kritis dalam permainan Monopoli

Elizabeth Magie adalah penemu sekaligus otak yang merancang permainan Monopoli. Inspirasi membuat permainan ini muncul setelah dirinya membaca buku klasik karya Henry George berjudul
Progress and Poverty
(1879). Buku itu diberikan oleh sang ayah, James Magie, yang merupakan seorang politikus antimonopoli.

Baca Juga :   Etnik Yang Mendiami Negara Myanmar Ditunjukkan Oleh Baris

Dalam sebuah halaman buku tertulis:
Semua orang memiliki hak yang sama untuk menggunakan lahan sebagaimana hak mereka untuk menghirup udara. Ini merupakan hak yang mengiringi fakta keberadaan mereka sendiri.

Buku
Progress and Poverty
ditulis George setelah dirinya berkeliling Amerika pada 1870-an. Dalam perjalanan itu George menemukan bagaimana kemiskinan menggerogoti banyak orang di tengah pertumbuhan kekayaan orang-orang lainnya. Satu hal yang diyakini George jadi penyebab itu adalah ketidakadilan dalam kepemilikan lahan.

Dengan tekad menularkan nilai yang ‘dititahkan’ James lewat buku George, Elizabeth Magie menciptakan konsep permainan Monopoli yang ia sebut ‘permainan tuan tanah’ pada 1904. Di tahun yang sama permainan itu dipatenkan. Lewat permainan ini Elizabeth Magie juga memperkenalkan konsep papan sebagai sirkuit permainan, yang pada saat itu tergolong baru.

Dikutip
BBC, sirkuit permainan tuan tanah dipenuhi papan, jalan, dan tanda ‘dijual’. Inovasi jadi kunci dari permainan ini, yang bersandar pada dua perangkat aturan yang ia susun: kemakmuran dan kemenangan.

Lath game, Monopoli (Sumber: Commons Wikimedia)

Di bawah perangkat aturan kemakmuran, pemain akan diuntungkan setiap kali ada yang membeli properti baru. Perangkat aturan ini dirancang untuk mencerminkan kebijakan George tentang pemberlakuan pajak nilai. Dan perangkat aturan kemenangan membuat permainan ini berpeluang dimenangkan oleh semua pemainnya.

Permainan ini kemudian berkembang. Aturan tak banyak berubah. Tapi nilai-nilai dan
mindset
para pemain berkebalikan. Permainan Monopoli yang semula dimaksudkan untuk mendidik pemain bersikap adil dalam kepemilikan tanah lewat sistem pajak dan sebagainya malah mendorong para pemain makin rakus dalam praktik permainannya.

Dari yang semula semua bisa menang, belakangan permainan Monopoli membawa mereka yang paling rakus membeli properti dan mengumpulkan uang dari sewa properti –dari mereka yang tak beruntung– sebagai pemenang. Siapapun yang membuat pemain lain bangkrut akan jadi pemenang tunggal.

Baca Juga :   Garam Perak Yang Paling Sukar Larut Adalah

Tapi bagaimanapun, Monopoli menunjukkan kita bahwa pendekatan yang berbeda dalam kepemilikan properti dapat memberikan akibat sosial yang berbeda pula. Elizabeth Magie melihat aturan ganda ini tetap edukatif. Pemain paling tidak dapat mengalami praktik sistem perampasan tanah yang terjadi di banyak wilayah Amerika.

“Permainan itu boleh juga disebut ‘Permainan Kehidupan’ karena berisi semua elemen kesuksesan dan kegagalan di dunia nyata. Dan objeknya sama seperti yang diperlihatkan pada ras manusia pada umumnya, yaitu akumulasi kekayaan.”

Siapa Elizabeth Magie dan bagaimana pergeseran nilai dalam permainan Monopoli?

Permainan yang diperkenalkan Elizabeth langsung populer di kalangan intelektual sayap kiri, termasuk mereka yang berada di Wharton School, Harvard, Columbia, bahkan di kalangan komunitas Quaker. Beberapa di antara mereka memodifikasi permainan dengan menambahkan papan nama jalan dari Atlantic City di dalamnya.

Salah satu orang dari komunitas Quaker yang memodifikasi permainan ini adalah seorang pria pengangguran bernama Charles Darrow. Ia kemudian menjual versi modifikasi itu sebagai karyanya sendiri ke perusahaan gim, Parker Brothers. Parker Brothers pun membeli hak paten permainan itu dan meluncurkan ulang papan permainan sederhana sebagai Monopoli.

Dalam Monopoli, nilai-nilai Elizabeth Magie makin luntur. Permainan itu hanya memiliki satu ketentuan, bahwa pemenang adalah siapapun yang berhasil mengungguli orang lainnya lewat praktik monopoli pasar properti, kepemilikan tanah, dan penguasaan kapital atau dana.

Monopoli malah mendorong para pemain hari ini untuk merayakan nilai-nilai berlawanan dengan yang ditanamkan Elizabeth Magie. Alih-alih melawan nilai kapitalisme, Monopoli malah mendorong pemainnya untuk saling menindas di atas papan dengan memanfaatkan modal kapital yang dimiliki.

Elizabeth Magie (Sumber: Commons Wikimedia)

Lahir tahun 1866, Elizabeth Magie adalah orang yang konsisten menentang norma dan politik pada masanya. Hampir dalam segala hal. Elizabeth Magie bahkan tidak menikah hingga usianya xl-an. Ia merasa mandiri dan bangga akan hal itu. Elizabeth Magie juga cerdik. Langkah aktivismenya selalu berorientasi pada sorotan.

Baca Juga :   Teknik Menggambar Apakah Yang Biasanya Menggunakan Drawing Pen

Ia pernah mengiklankan dirinya di koran dan menawarkan dirinya sebagai budak perempuan Amerika untuk dijual kepada penawar tertinggi. Pesan dari Elizabeth Magie adalah untuk menggarisbawahi posisi perempuan dalam masyarakat yang kerap ditempatkan di bawah kaki laki-laki.

“Kami bukan mesin … Anak perempuan memiliki pikiran, keinginan, harapan, dan ambisi,” kata Elizabeth Magie.

Selain menentang politik gender, Elizabeth Magie juga telah lama berkonsentrasi pada isu kepemilikan properti dan penguasaan tanah dalam sistem kapitalisme. Kate Raworth, penulis buku
Doughnut Economics: Seven Ways to Remember Like a 21st-Century Economist
menulis pandangannya pada BBC soal betapa penting permainan Monopoli untuk menunjukkan kejahatan-kejahatan kapitalisme.

“Monopoli adalah gambaran nyata dari kehidupan di zaman kapitalisme. Permainan ini dibuat dengan berbagai nilai dan perangkat aturan yang mengedukasi, yang ironisnya sekarang malah mencontohkan nilai yang berkebalikan (dari tujuan awal dibuat), yaitu memburu kekayaan dan meluluh-lantakkan lawan-lawan Anda jika Anda ingin mencapai puncak.”

*Baca Informasi lain soal SEJARAH DUNIA atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata

BERNAS Lainnya

BACA JUGA: